Menjelang liburan Natal & akhir tahun “Sang Pemimpi” menjadi salah satu film andalan untuk menghibur penonton bioskop-bioskop di indonesia.
Sama seperti pendahulunya sekuel film Laskar Pelangi ini, diangkat dari novel berjudul sama karangan Andrea Hiratha kembali dengan pesan – pesan sarat makna untuk dijadikan perenungan dalam menjalani proses kehidupan.
Sang Pemimpi kembali mengantarkan cerita perjalanan Ikal , tokoh utama yang adalah gambaran figur masa lalu sang pengarang dalam meretas mimpi sehingga menjadi seorang novelist best-seller saat ini. Kali ini ditemani oleh Arai yang diceritakan sebagai anak dari saudara bapaknya yang meninggal kemudian diadopsi untuk tinggal dan tumbuh bersama-sama Ikal dan Jimbron, seorang anak yang mendadak gagap setelah ditinggal pergi kedua orangtuanya. Trio ini terkenal bengal di sekolah, namun memiliki kemampuan cerdas untuk bidang tertentu, sehingga menjadi andalah sekolahnya.
Arai – sang pemimpi – digambarkan sebagai seorang anak yang cerdas,tekun namun berhati lembut karena sering menolong sesama dan teman-temannya. Kelak Arai lah yang menghantarkan Ikal untuk bersama- sama menggapai mimpi menuju Sorbonne dalam menggapai mimpi untuk sekolah master di Paris.
Utuk mencapai sesuatu yang kita impikan , diperlukan komitmen dan kesabaran yang akan terus diuji dalam proses perjalanan yang kadang mewujud lewat realita yang begitu berat untuk dijalani, seperti yang dialami Ikal,Arai serta Jimbron. Begitulah yang berusaha ditanamkan oleh Balia (Nugie) sang guru yang berdedikasi dan menyadari kemampuan yang dimiliki Ikal dan Arai, disamping didikan yang keras Pak Mustar sang Kepala Sekolah yang ternyata sangat mendukung mereka.
Tanpa bersifat menggurui, film ini menghantarkan serangkaian tampilan cerita secara visual yang sarat perenungan untuk mendorong kita agar tidak pernah berhenti untuk bermimpi dan berharap akan hidup yang lebih baik.
Tidak seperti pendahulunya, film ini kurang mengekspos spot –spot yang indah sebagai scene pendukung, tetapi mengandalkan suasana pedesaan dan kampung nelayan yang tradisional beserta suasana yang tepat pada masanya.
Bagi anda yang pada tahun 80-an akan merasakan suasana nostalgia dengan scene pendukung film hitam putih Lone Ranger yang memang diputar di TVRI pada waktu itu, dan era jayanya bioskop di kampung yang memutar film-film dewasa dengan poster “hot” , yang cukup mempengaruhi anak muda pada waktu itu..
So far , film ini sangat layak untuk dijadikan hiburan keluarga. Banyak makna pendidikan yang tersirat dalam rangkaian cerita dan visualnya. Top banget deh buat sutradara-nya Riri Riza beserta produsernya Mira Lesmana.
Yang belum nonton..buruan deh
Rating : *** … (from 5 stars)
Genre : Drama



